• 0000.jpg
  • 11.jpg
  • 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

WhatsApp Image 2019 10 09 at 14.40.20

Cibinong, Humas LIPI. Beberapa bulan yang lalu The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menyatakan bahwa satu juta spesies dunia dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Beberapa penyebab kepunahan tersebut diantaranya perubahan fungsi lahan, eksplotasi satwa liar, perubahan iklim, polusi dan invasive alien species. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi populasi satwa endemik Indonesia yang belum terekspos.

Penemuan baru satwa Indonesia tahun 2019 dari hasil ekspedisi yang dilakukan oleh peneliti pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentunya memberi angin segar di tengah krisis keanekaragaman hayati tersebut. “Hasil penelitian berupa penemuan spesies baru adalah salah satu wujud tanggung jawab LIPI kepada negara dan masyarakat atas mandat yang diberikan kepada LIPI sebagai lembaga publik yang memiliki tugas mengkaji keanekaragaman hayati di Indonsia,” ujar Atit Kanti selaku Kepala Pusat Penelitian Biologi pada kegiatan media visit Selasa (8/10) di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Cibinong. 

Sejalan dengan itu, Cahyo Rahmadi selaku Kepala Bidang Zoologi mengungkapkan dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2015-2019) capaian temuan spesies satwa baru LIPI terus meningkat. Posisi lima tertinggi kelompok taksa penemuan jenis baru adalah  crustacea, gastropoda, ikan, reptil dan amfibi dan mamalaia  Hingga Oktober 2019 telah ditemukan 33 spesies endemik baru di Indonesia. “Angka ini kami pastikan akan terus bertambah, karena proses identifikasi temuan masih terus berlangsung,” tambah Cahyo

Dirinya mengungkapkan temuan satwa baru tersebut akan menjadi data based untuk melengkapi data kehati, khususnya fauna – yang pada akhirnya akan sangat penting untuk proses pembangunan keanekaragaman hayati berkelanjutan di Indonesia. Bahkan dalam konteks kontribusi, hampir 50% kontribusi utama penemuan spesies baru tersebut berasal dari peneliti LIPI. Hal ini perlu semakin ditingkatkan untuk menunjukkan kemandirian riset dengan mengedepankan kolaborasi riset.

Dalam kegiatan media visit kali ini,  Pusat Penelitian Biologi memperkenalkan beberapa jenis baru, yaitu katak, cicak dan burung, sehingga menambah panjang daftar hewan endemik yang ditemukan di Indonesia.

Cicak Batu Muria

Cnemaspis muria merupakan jenis baru cecak batu yang secara resmi dicatatkan pada lembaran daftar spesies Indonesia pada tanggal 17 Mei 2019 di jurnal ilmiah ZOOTAXA edisi 4608.  Deteksi dini keberadaan cecak batu (genus Cnemaspis) pertama kali dijumpai oleh Andri IS Martamenggala dari GAIA Eko Daya Buana yang merupakan salah anggota tim pendeskripsi spesies baru saat melakukan kegiatan survei pendataan keragaman hayati di gunung Muria, Jawa Tengah pada  bulan Juli tahun 2018. Temuan tadi kemudian ditindaklanjuti dengan membentuk tim yang terdiri dari GAIA  Eko Daya Buana serta LIPI untuk memastikan temuan tersebut dengan melihat langsung di lokasi.

Berdasarkan catatan ilmiah, distribusi cicak marga Cnemaspis di Indonesia hanya sampai di daerah gunung Rajabasa, Lampung; Kalimantan Barat serta pulau kecil di selat Karimata. “Setelah melalui kajian morfologis dan filogenik, tim mendapatan kesimpulan bahwa cecak batu dari gunung Muria tersebut merupakan spesies baru,” ujar Awal Riyanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Ciri-ciri morfologi spesies baru yang bernama Cnemaspis muria ini berupa pupil yang bulat, panjang tubuh mencapai 5,8 cm, adanya sepasang struktur tuberkular seperti kerucut pada kepala bagian belakang, alur berkutil pada nuchal loop, susunan deret tuberkular dorsal tidak secara linier, serta tidak terdapat pori-pori prakloakal maupun femoral. “Spesies jantan mempunyai warna perut dan pangkal kuning serta ujung ekor putih, sedangkan betina perut berwarna putih dan setengah panjang ekor bagian belakang dihiasi warna hitam putih berselang seling seperti cincin,” jelas Awal.

Katak Tanduk Kalimantan, Kodong Wayang Sumatera, dan Katak Pinokio Papua

Adalah Katak Tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis), spesies katak baru yang ditemukan di wilayah Borneo.  Katak jenis baru tersebut baru saja dideskripsikan oleh tim peneliti dari LIPI; Kyoto University, Jepang; Aichi University of Education, Jepang; Institut Teknologi Bandung; dan Universitas Negeri Semarang. “Jenis baru ini dikoleksi dari ekspedisi yang dilakukan di pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, juga di Bario, Sarawak dan pegunungan Crocker di Sabah, Malaysia,” jelas peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy di Penemuan jenis baru ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa vol. 4679.

Morfologi katak tanduk Kalimantan ini sangat mirip dengan katak tanduk pinokio (Megophrys nasuta) yang tersebar luas mulai dari Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Jenis baru ini memiliki tanduk (dermal accessory) pada bagian moncong dan mata yang lebih pendek jika dibandingkan dengan katak tanduk pinokio. Juga sepasang lipatan lateral tambahan pada sayap. Secara akustik, suara individu jantan dari jenis baru ini memiliki variasi yang lebih banyak dan lebih panjang jika dibandingkan dengan katak-tanduk pinokio. “Berdasarkan hasil analisis dari tiga metode pendekatan tersebut kami menyimpulkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru dan kemudian diberi nama Megophrys kalimantanensis,” jelas Amir.

Selain Katak Tanduk Kalimantan Peneliti LIPI juga berhasil menemukan tiga spesies baru kodok wayang dari hutan dataran tinggi Sumatera. Sigalegalephrynus gayoluesensis dari Gayo Lues, Aceh dan Sigalegalephrynus burnitelongensis dari gunung Burni Telong, Aceh yang ditemukan di daerah utara Sumatera, sedangkan Sigalegalephrynus harveyi berasal dari gunung Dempo, Sumatera Selatan.”Genus Sigalegalephrynus memiliki lebih banyak spesies endemik dibandingkan genus kodok lainnya di Indonesia,” ujar Irvan Sidik dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Hasil analisis filogenetik mengindikasikan terdapat perbedaan taksonomi antara kodok di dataran tinggi utara dan selatan. “Hasil identifikasi karateristik  morfologis, genetik dan akustik  dari ketiga spesies baru tersebut berbeda dengan dua spesies genus Sigalegalephrynus sebelumnya yaitu Sigalegalephrynus mandailinguensis, dari gunung Sorikmarapi, Sumatera Utara dan Sigalegalephrynus minangkabauensis dari gunung Kunyit, Jambi,” ujar Irvan. Penemuan jenis baru ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa vol. 4679.

Di Timur Indonesia, tepatnya di Pegunungan Foja, Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua telah ditemukan Litoria Pinocchio.  Spesies baru itu memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.

Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S. Marsden mengatakan, katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri, termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Burung Kicau dari Pulau Alor

Penemuan burung jenis baru Myzomela prawiradilagae berkontribusi menambah daftar panjang temuan satwa endemik burung di Indonesia. Bahkan keberhasilan deskripsi Myzomela Alor berhasil  menambah jumlah total burung genus Myzomela di Indonesia menjadi 20 jenis.   

“Secara fisik, Myzomela prawiradilagae  memiliki kemiripan warna dengan Myzomela dammermani dari Sumba dan Myzomela vulnerata dari Timor,” terang peneliti bidang ornitologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Mohammad Irham. Dirinya menjelaskan, penamaan burung jenis baru dari pulau Alor ini merupakan bentuk penghargaan kepada peneliti senior bidang ornitologi LIPI, Dewi Prawiradilaga atas kontribusi besarnya untuk pengembangan penelitian ekologi dan konservasi burung Indonesia.

Dirinya menjelaskan, meskipun burung pemakan madu alias nektorivora tersebut secara filogenetik berkerabat dekat dengan Myzomela kuehni dari pulau Wetar, Maluku, namun dilihat dari karakter morfologi, bioakustik dan ekologi memiliki perbedaan siginfikan.

Berdasarkan hasil analisis terdapat beberapa perbedaan fisik antara Myzomela Alor dan Myzomela Wetar. Warna merah di kepala Myzomela Alor lebih mencolok dan memiliki pita kecil yang hanya mencapai tenggorokan.  Dari segi vokalisasi Myzomela Alor lebih lambat dan bernada lebih rendah, dan hampir selalu dimulai denga nada awal. Selain itu darti segi habitat, terbatas di hutan Eucalyptus (1000m). Penemuan jenis baru ini telah dipublikasikan di Journal of Ornithology pada 5 September 2019 (SA).

Kontributor: Tim Humas Cibinong

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top