• slide001.jpg
  • slide 01.jpg
  • slide 01a.jpg
  • slide 010.jpg
  • slide 011.jpg
  • slide 0111.jpg
  • slide 1.jpg
  • slide 2.jpg
  • slide 3.jpg
  • slide 4.jpg
  • slide 5.jpg
  • slide 7.jpg
  • slide 7a.jpg
  • slide 7b.jpg
  • slide 11.jpg
  • slide 12.jpg
  • slide 13.jpg
  • slide 14.jpg
  • slide 15.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

Bunga jenis jahe baru, Zingiber Ultralimitale. Foto: Axel Dalberg Poulsen

Pada 2009, Marlina Ardiyani, peneliti Taksonomi dan Sistematika Zingiberaceae dari Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bersama beberapa rekan melakukan perjalanan menyusuri berbagai tempat di Sulawesi–dari Sulawesi Utara, Tengah, Tenggara dan Selatan. Mereka mengamati tumbuhan sekeliling. Kelompok ini sedang berburu dan menginventarisasi jahe liar.

Mengapa memilih Sulawesi? Marlina Ardiyani dalam surat elektronik mengatakan, kawasan timur garis Wallacea belum memiliki dokumentasi baik mengenai jahe. Di kawasan barat garis imajiner itu, dokumentasi dan inventarisasi sudah cukup banyak, seperti Sumatera, Jawa dan Borneo.

Dalam perjalanan berburu jahe ini sekitar dua bulan, bersama Axel Dalberg Poulsen peneliti dari Royal Botanic Garden Edinburgh (RBGE) Skotlandia dan mitra setempat dari Universitas Tadulako Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

Hasilnya, di karst Maros Sulawesi Selatan di sela hutan batu, tim menemukan jahe liar jenis baru. Namanya Zingiber ultralimitale.

Pemberian nama pakai ultralimitale, mengacu pada letak batas wilayah. Sejawat jauhnya di kawasan ini adalah jenis budidaya, seperti Zingiber officinale (jahe verietas merah dan putih), Zingiber montanum (Bangle), Zingber odoriferum, dan Zingiber zerumbet (lempuyangan). “Tapi ultralimitale memperlihatkan jenis baru dari marga Zingiber– liar – di wilayah timur garis Wallace,” kata Marlina.

Ketika tim menemukan ultralimitale, mereka perlahan dan hati-hati mengangkat karena akar bertumpu di sela bebatuan. Akar dipenuhi retakan batu kapur. Ada 10 umbi jahe dipindahkan. Beberapa ditanam di Kebun Raya Bogor, setengahnya di Royal Botanic Garden Edinburgh.

Dalam A new species of Zingiber (Zingiberaceae) east of Wallace’s Line di jurnal Gardens Bulletin Singapore pada 2017, M. Ardiyani, M.F. Newman & A.D Poulsen menjelaskan, awalnya jahe ini dianggap spesies dari marga Globba L (jahe-jahean yang lain), sebagai satu-satunya spesies yang diketahui berada di timur garis Wallacea.

Menganggap temuan ini menarik, tim memutuskan mengambil tumbuhan steril itu yang diharapkan akan berbunga hingga memudahkan proses identifikasi.

Di Kebun Raya Bogor, saat dorman tumbuhan diduga sudah mati, di Edinburgh, beberapa tumbuhan berbunga dengan baik, hingga memudahkan tim mengidentifikasi sebagai spesies dari marga Zingiber dan bukan dari marga Globba.

Akhirnya, tumbuhan ini dibuatkan deskripsi lengkap termasuk rincian bunga, morfologi serbuk sari, dan data barcode DNA.

Temuan ini pun menjelaskan posisi jenis baru dalam pembagian unit taksonomi (seksi) ke dalam seksi Zingiber dengan data palinologi (polen atau serbuk sari) menggunakan mikroskop pemindai elektron (scanning electron microscope/SEM). Juga analisis molekuler dengan sekuens DNA (urutan basa-basa DNA). Sekuens DNA antara satu spesies dengan spesies lain dibandingkan dan dianalisis guna merekonstruksi kekerabatan.

Rimpang jahe Zingiber ultralimitale ini bercabang antara 5-8 mm, bagian luar berwarna coklat, dan bagian dalam agak kekuningan. Umbi pun terasa pahit dibandingkan Zingiber officinale (jahe budidaya umum).

Jahe dikenal masyarakat

Jahe yang dikenal umum di masyarakat ada dua, yakni, jahe merah (Zingiber officinale varietas merah) dan jahe putih (Zingiber officinale). Jahe merah biasa untuk obat-obatan dan jahe putih untuk rempah makanan.

Di Sulawesi Selatan, jahe putih dipakai dalam salah satu minuman khas bernama sarabba. Jahe ini diparut halus dan direbus bersama santan dan gula merah. Saat meneguk, badan terasa hangat. Obat jahe dalam beberapa bahasa lokal di Luwu bernama layya, untuk sakit perut melilit.

Mengapa jahe memberi rasa pedas? Menurut Marlina, kemungkinan itu dari zingeron tanaman. Rimpang jahe mengandung minyak atsii, mineral sineol, fellandren, kamfer, borneol, dan vitamin A, B1, C, dan protein.

Di seluruh dunia, ada sekitar 1.500 jenis dari suku Zingiberaceae atau suku empon-emponan atau jahe-jahean. Di Indonesia hampir 500 jenis.

“Jadi kurang lebih sepertiga (di Indonesia) dari Zingiberaceae yang ada di dunia. Ini menunjukkan betapa kaya diversitas jahe liar di hutan-hutan nusantara dan betapa penting Indonesia untuk mempelajari keragaman jahe liar itu,” katanya.

Penyebaran atau distribusi jenis jahe-jahean (marga Zingiber) berada di India, IndoChina, Malesia (istilah biogeografi untuk penyebutan wilayah yang membentang dalam zona ekologi Indomalaya hingga Australia) hingga ke Pasifik Barat.

Akar, bunga, batang sampai daun jahe jenis baru yang ditemukan di Sulawesi. Foto: Axel Dalberg Poulsen

Sumber - MONGABAY

Pengunggah - Pramono

Info Kegiatan

QR code

qr code

Gallery 

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top