• 0000.jpg
  • 11.jpg
  • 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

Kajian Ilmu Pengetahuan Hayati melingkupi 1) Kajian fauna, 2) Kajian flora, 3) Kajian mikroba 4) Pangan dan Material maju. Berkaitan dengan fauna Sumba, sejarah eksplorasi fauna di Sumba ditujukan untuk mendata potensi fauna Sumba, menemukan jenis baru (mengkaji morfologi dan molekuler), serta menguak potensi pemanfaatan dan aspek konservasi jenis jenis endemik pulau Sumba.

Di Pulau Sumba tercatat 18 jenis mamalia, 75 jenis burung, 56 jenis ikan, 12 jenis reptil, 5 jenis amfibi, 139 jenis serangga, 44 jenis keong, 25 jenis kepiting, 37 jenis udang, dan 2 jenis kelomang. Tiga kandidat jenis baru (1 jenis tikus Rattus sp., dan 2 jenis lalat buah Drosphila sp.). Untuk catatan baru jenis fauna Sumba sebanyak 29 jenis. Berdasarkan hasil kajian molekuler (DNA) tentang Kuda Sumba (Sandel), dapat disimpulkan bahwa Kuda Sumba berasal dari dua garis keturunan (terdapat dua haplo-group) yang berbeda. Selain itu, di dalam populasi Kuda Sumba sudah terjadi perkawinan silang dalam (inbreeding), hal ini ditunjukkan dengan rendahnya diversitas genetiknya. Informasi ini bisa digunakan untuk memberikan pertimbangan ilmiah untuk konservasi genetik kuda Sumba. Fauna yang telah diintroduksikan ke Sumba dan berpotensi menjadi hama pertanian adalah Bekicot (Achatina fulica) dan Keong Mas (Pomacea canaliculata).

Untuk Kajian flora Sumba, terdapat empat tipe ekosistem di Sumba: ekosistem hutan hujan pegunungan bawah, ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekositem padang rumput dan ekositem pantai berpasir. Puncak tertinggi di Sumba adalah gunung Wanggameti (1225 m dpl) yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti. Berdasarkan literatur telah disebutkan keberadaan hutan elfin di puncak Wanggameti. Hutan elfin (kerdil) adalah  hutan dimana tumbuhannya berukuran kecil (kerdil), hal ini disebabkan oleh bebarapa faktor lingkungan seperti keterbatasan air, tanah jenuh, suhu daun berkurang, keterbatasan hara, dan paparan angin yang kuat. Fenomena hutan elfin memang unik diantara tipe-tipe ekosistem lainnya.  Hasil temuan tim IPH LIPI yang melakukan penelitian di hutan Wanggameti sampai puncaknya (1225 m dpl) menyatakan bahwa berdasarkan fisionominya hutan Wanggameti adalah hutan hujan atau berasosiasi dengan hutan lumut karena atmosfir jenuh yang konstan. Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, khususnya hutan Wangameti mempunyai fungsi tata air yang sangat penting di Kabupaten Sumba Timur yang perlu dilestarikan. Tercatat ada 103 jenis pohon di dalam kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti yang tergabung dalam 81 marga dan 42 suku. Tercatat setidaknya ada 17 jenis tumbuhan asal Sumba memiliki potensi sebagai tanaman hias dan penghasil kayu. Tim IPH LIPI juga telah menemukan 1 jenis baru Bambu Schizostachyum sp. Sumba juga memiliki jenis Bambu yang merambat Dinochloa kostermansiana yang merupakan salah satu flora yang unik di Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti. Masyarakat lokal menyebutnya Lulu ura. Unik karena bambu ini tidak tumbuh tegak, melainkan merambat hingga mencapai ketinggian 30 meter pada pohon sekitarnya. Bambu ini juga endemik Nusa Tenggara Timur, hanya dapat dijumpai di Flores dan Sumba. Keunikan dan endemisitas Lulu ura layak digunakan sebagai dasar penetapan bambu ini menjadi salah satu aset dan maskot flora Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti. Masyarakat lokal memanfaatkan Lulu ura untuk membuat anyaman tapihan beras dan rangka atap bangunan.

Dari penelitian potensi pangan lokal, tim IPH LIPI mengidentifikasi potensi serealia (selain padi dan jagung): 3 jenis; umbi umbian: 9 jenis; kacang kacangan: 7 jenis; buah dan sayur: 10 jenis.  Kami juga telah mendata 18 jenis tumbuhan yang memiliki potensi biprospeksi, penelitian untuk menemukan kandungan zat aktif pada tumbuhan tersebut dan potensi zat aktif pada mikrob (bakteri, khamir, actinomisetes) masih dilakukan sampai sekarang. Untuk potensi tumbuhan kayu, kami menemukan 10 jenis yang tergolong kelas kuat (II). Tim IPH LIPI juga telah menemukan 3 jenis jamur pelapuk yang berpotensi sebagai penghilang warna limbah tekstil.


Artikel ini ditulis oleh Tim Peneliti Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIP

Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 19 Desember 2016

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top