• 12.jpg
  • 13.jpg
  • 14.jpg
  • 15.jpg
  • 16.jpg
  • 17.jpg
  • 18.jpg

Bidang Botani

Herbarium Bogoriense(BO)

Botany

Read more

Bidang Zoologi

Bidang Mikrobiologi

Informasi Kehati

Produk Puslit Biologi

 

WhatsApp Image 2021 03 09 at 13.58.05

Cibinong, Humas LIPI. Ayu Savitri Nurinsiyah peneliti muda Pusat Penelitian Biologi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kelahiran 1986, awal Maret ini baru kembali dari kegiatan lapangan bersama tim peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI. Ayu dan tim memilih Pegunungan Menoreh Jawa Tengah  menjadi lokasi  penelitian awal dalam rangkaian kegiatan penelitian mengenai Karakterisasi Potensi Fauna Asli Indonesia dengan mengusung proposal Lendir Keong Darat Sebagai Sediaan nutra Cosmeceutical dan Sarang Laba-Laba Sebagai Serat Alami. Semula kegiatan ini dilakukan pada tahun lalu, namun karena pandemi baru dapat dilaksanakan pada 2021.

Kegiatan lapangan dilakukan untuk mendapatkan sampel berupa spesimen hidup tertarget yaitu fauna native dari Pulau Jawa yakni keong darat dan laba-laba. Karena ketersediaan spesimen hidup menentukan keberlangsungan berjalannya penelitian selanjutnya di laboratorium. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengungkap karakter lendir keong darat sebagai sediaan nutra cosmeceutical dan sarang laba-laba sebagai sumber serat alami.

Alumni Universität Hamburg, Germany yang lulus dengan predikat Magna Cum Laude ini resmi bergabung sebagai peneliti moluska di Pusat Penelitian Biologi LIPI pada tahun 2018. Perkenalan dengan LIPI dimulai saat Ayu kuliah S1 di Universitas Padjadjaran akan melakukan tugas magang. Dirinya membutuhkan peneliti taksonomi keong darat. Karena di kampusnya belum ada,  Ayu pun menghubungi  seniornya yang lebih dulu menjadi peneliti di Pusat Penelitian Biologi  untuk dicarikan peneliti yang dibutuhkannya dan bertemulah ia dengan Ristiyanti Marsetiyowati Marwoto.

“Saat magang dan skripsi pekerjaan saya betul-betul di lab dan mengerjakan koleksi. Saya melihat koleksi yang ada di Museum Zoologi Pusat Penelitian Biologi tidak membuat saya bosan bahkan membuat saya penasaran dan penasaran,” kata Ayu bersemangat. Sejak itu Ayu bekerjasama dengan Pusat Penelitian Biologi, bahkan saat melanjutkan kuliah S2 ke Belanda dan S3 ke Jerman Ayu tetap kontak dengan Pusat Penelitian Biologi untuk memenuhi rasa penasarannya.

Peneliti yang punya hobi jalan-jalan ini  tertarik dengan hewan lunak sejak kelas 3, Sekolah Menengah Atas. Berawal saat sepupunya terluka karena menginjak beling dan mengeluarkan darah cukup banyak, darah yang keluar menggumpal beku sesaat setelah ditempelkan lendir bekicot. “Karena lendir keong memiliki zat antibakteri,” jelas Ayu.

Kemudian Ayu diminta untuk membuat karya tulis ilmiah dalam rangka mengikuti ujian akhir sekolah (UAS). “Karena saya jurusan IPA saya memilih mata pelajaran Biologi dan menulis tentang keong. Untuk membuat tulisan tentu harus banyak membaca. Semakin banyak membaca semakin banyak informasi keong yang saya belum ketahui. Banyak pengetahuan baru tentang keong,” ujar Ayu.

Rasa penasaran Ayu terhadap keong darat terus berlanjut hingga mengambil gelar sarjana di Universitas Padjadjaran (Unpad). Bahkan, dia mengatakan karya ilmiah, praktek kerja lapangan, hingga skripsinya berkaitan dengan keong darat. “Kunci saya betah di keong darat sebenarnya karena semakin lama semakin tidak tahu, bikin penasaran dan misteri,” tambah Ayu.

Dari hasil eksplorasi, Ayu berhasil menemukan 23 jenis baru keong darat endemik pulau Jawa. Sebagian besar keong darat tersebut berukuran mikro sehingga Ayu membutuhkan mikroskop untuk mengamatinya.

“Ada 23 jenis baru yang ditemukan sejak tahun 2017, namun satu belum diberi nama karena ditemukan hanya satu spesimen secara tidak sengaja di dalam spesimen milik museum Belanda yang sedang dikerjakan,” kata Ayu menjelaskan. Ayu hanya memberi nama sp saja, microsnail tersebut berukuran 1 – 2 mili yang nyempil dalam keong lain yang sedang diteliti. Setelah dikeluarkan ternyata berbeda dengan dengan jenis sebelumnya dan belum diberi nama karena kuatir kedepannya salah dan memberi kesempatan kepada peneliti lain untuk pertimbangan bahwa itu benar baru atau salah, ” urai Ayu.

Sebanyak 16 dari 23 jenis baru keong darat endemik Jawa temuan Ayu bersama Marco Neiber dan Bernhard Hausdorf (Centrum für Naturkunde / CeNak, Universität Hamburg, Jerman) dipublikasikan dalam “Revision of the land snail genus Landouria Godwin-Austen, 1918 (Gastropoda, Camaenidae) from Java“ yang diterbitkan oleh European Journal of Taxonomy edisi Mei 2019.

Keenam belas spesies tersebut adalah Landouria parahyangensis yang dinamakan berdasarkan area sebaran spesies tersebut, yaitu di tanah Sunda (Parahyangan). Landouria petrukensis diberi nama Petruk karena hanya ditemukan di kawasan Gua Petruk, Kebumen, Jawa Tengah. Landouria abdi dalem terinspirasi dari abdi dalem Keraton Yogyakarta dimana spesies tersebut ditemukan di Provinsi Yogyakarta. Landouria naggsi, Landouria nusakambangensis, Landouria tholiformis, Landouria tonywhitteni, Landouria madurensis, Landouria sewuensis, Landouria sukoliloensis, Landouria nodifera, Landouria pacitanensis, Landouria zonifera, Landouria pakidulan, Landouria dharmai, dan Landouria menorehensis.

Penemuan jenis baru lainnya oleh  Ayu dan  Bernhard Hausdorf dipublikasikan dalam “Dicharax (?) candrakirana n. sp. (Gastropoda: Cyclophoridae) from Sempu Island, Indonesia yang diterbitkan oleh Zootaxa 4363 (4): 589–591, edisi Desember 2017 dan dalam “Revision of the Diplommatinidae (Gastropoda: Cyclophoroidea) from Java” oleh Zootaxa 4312 (2): 201–245, edisi Agustus 2017. Keenam spesies baru tersebut adalah Dicharax candrakirana, Diplommatina halimunensis, Diplommatina kakenca, Diplommatina ristiae, Diplommatina heryantoi dan Arinia yanseni.

Di sini Ayu juga menyampaikan apa yang akan menjadi fokus utama dirinya selanjutnya yaitu mengungkap keanekaragaman hayati keong di Indonesia dan memotivasi banyak orang bahwa negara Indonesia itu adalah negara yang kaya sekali dengan keanekaragaman hayatinya. Keanekaragaman hayati  bisa menjadi landasan berbagai teknologi inovasi. “Jadi yang utama adalah mengungkap biodiversity dulu, “ ujar Ayu.

Kedepan Ayu ingin bekerjasama dengan peneliti di bidang lain untuk mengungkap lebih dalam lagi potensi lendir keong. Ayu menyadari bahwa sekarang bukan zamannya lagi semua harus dikerjakan sendiri. Sekali lagi Ayu mengingatkan yang paling penting di sini adalah kita harus mengetahui keanekaragaman hayati yang kita miliki.

Selama sembilan tahun, Ayu menjadi diaspora di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman. Saat pulang tahun 2018, LIPI membuka jalur diaspora dalam mekanisme perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS).  “ Alhamdulillah lulus dan sekarang jadi peneliti di laboratorium moluska, Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI,” ungkap Ayu.  Ayu seperti menemukan “tempat seumur hidup”, karena banyak sekali yang bisa dikerjakan di sini. Apalagi saat ini hanya ada dua peneliti taksonomi moluska di LIPI.

Lendir keong jugalah yang mengantar Ayu menerima penghargaan L’Oreal-Unesco for Women in Science National Fellowship 2019 untuk riset spesies keong darat Jawa yang memiliki antimikroba dari protein lendirnya. Selain itu Ayu mendapatkan pula Tony Whitten Conservation Prize yang diselenggarakan oleh Cambridge Conservation Initiative pada akhir tahun 2019. Dan sejak 2015 sampai saat ini, Ayu sudah berhasil memiliki 10 publikasi internasional delapan diantaranya sebagai penulis pertama.

Selain menjadi seorang ilmuwan, perempuan ini juga merupakan seorang ibu dari dua anak. Perannya pun merangkap sebagai ibu, istri, anak, peneliti, dan yang lainnya.  Capaian yang telah diraih Ayu hingga kini tak lepas dari dukungan berbagai pihak terutama dukungan terbesar dari keluarga. Setiap dukungan yang didapatkan, dijadikan Ayu sebagai kekuatan baru untuk melanjutkan misi dari penelitian ini.(ew ed sl)

Info Kegiatan

Laporan Tahunan

LAPORAN TAHUNAN PUSLIT BIOLOGI

1. TAHUN 2016

2. TAHUN 2017

3. TAHUN 2018

Galeri video P2Biologi

Alamat

Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Cibinong Science Center, Jl. Raya Jakarta-Bogor, Km.46
Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Phone: +62(0)1-87907604/87907636 , Fax : +62(0)21-87907612 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Info Kegiatan

Get Socials

© 2009-2015 by GPIUTMD

Scroll to top