Bungarus candidus (Linnaeus, 1758)
Sinonim : Coluber candidus; Bungarus javanicus
Ular Weling
Malayan Krait





 

Merujuk pada Kopstein (1932) mengenai Bungarus javanicus (Black Bungarus) yang berasal dari Cirebon, sebenarnya merupakan sinonim dari Bungarus candidus. Hal ini juga diragukan keabsahannya oleh Kopstein (1938) sendiri dan didukung Slowinski (1994). Namun demikian, jenis ini dan spesimen koleksi yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense akan menjadi bahan penelitian yang menarik di masa akan datang. Mengingat secara morfologi pola tubuhnya berbeda nyata dengan Bungarus candidus.

Panjang total tubuhnya dapat mencapai 1280 mm. Kepala berwarna hitam dengan bagian bibir, dagu dan dagunya berwarna putih. Badannya ditutupi oleh sekitar 25-30 pita belang hitam berselang seling dengan warna putih yang pucat, sampai ke ujung ekor. Perbandingan antara lebar belang yang hitam dan putih kira-kira hampir sama. Warna belang yang hitam lebih lebar di bagian anterior badan dan tidak terus menyatu (melingkar) hingga ke bagian perutnya, seperti pada ular Welang (Bungarus fasciatus). Perutnya biasanya berwarna putih bersih. Bagian ekornya berbentuk runcing dan panjang. Pada individu dewasa belang-belang yang putih ada bercak-bercak kecoklatan, terutama di bagian anterior.

Panjang jarak antara moncong-anus mencapai 1130 mm. Sisik bibir atas berjumlah 7 sisik, yang ketiga dan keempat menyentuh mata. Sisik preocular 1 (besar) jarang ada yang 2 (kecil). Sisik postocular 2 atau 3 (jarang). Tidak ada sisik loreal. Sisik temporal 1+1 atau 1+2. Sisik dorsal pada bagian tengah badannya terdiri dari 15 baris, seluruhnya tanpa lunas dan halus. Bagian tengah punggungnya ada sebaris sisik-sisik memanjang yang berukuran besar dibandingkan sisik di sekitarnya. Sisik ventral berjumlah 214-217. Sisik anal tunggal. Sisik subcaudal berjumlah 42-46 dan terdiri dari 1 baris sisik.

Ular ini biasa ditemukan pada hampir semua habitat. Akan tetapi lebih banyak di tempat yang terbuka pada dataran rendah dan perbukitan hingga mencapai ketinggian sekitar 1200 m dpl. Aktifitas hariannya dilakukan secara terrestrial dan kebanyakan pada malam hari. Perkembang-biakannya dengan cara bertelur, biasanya mencapai 10 telur. Makanan kebanyakan yaitu jenis ular lain yang lebih kecil dan tak berbisa, tetapi dapat pula memakan kadal. Ular ini tergolong jenis yang mempunyai racun bisa dan berbahaya karena dapat menimbulkan luka serius bagi manusia.

Sepintas ular Lycodon subcinctus yang masih muda terlihat serupa dengan jenis ini. Akan tetapi warna belang hitam pada Lycodon subcinctus kira-kira 2 kali lebih lebar dari belang putihnya. Perbedaan lainnya yaitu pada Lycodon subcinctus sisik-sisik subcaudal terdiri dari 2 baris sisik, sedangkan Bungarus candidus hanya satu baris sisik saja.

 

Penyebaran:
Sumatera, Jawa, Karimunjawa, Bawean, Bali, dan Sulawesi.